
TIKTAK.ID – Sejak beberapa bulan terakhir hingga kini, Monumen Nasional (Monas) tiba-tiba menjadi pusat perhatian dan topik perbincangan publik. Musababnya berawal dari soal revitalisasi kawasan tersebut dan rencana perhelatan balap Formula E yang sedang diinisiasi Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan.
Hal ini tak terlepas dari nuansa politisasi yang dilakukan oleh pihak yang selama ini berseberangan secara politik dengan Gubernur DKI Jakarta yang kemudian diikuti serangan massif para buzzer alias pendengung yang tak henti berisik di media sosial, sehingga kebisingan pro-kontra dan polemik di kedua kubu tak terhindarkan.
Di luar kebisingan pro-kontra yang sebenarnya tak perlu, tahukah Anda bagaimana sejarah rancang bangun kawasan Monas yang saat ini menjadi ikon Ibu Kota tersebut?
Ide pembangunan Monas tidak lepas dari usulan Presiden Indonesia pertama yang juga memiliki latar belakang arsitek, Presiden Soekarno.
Beberapa literatur sejarah menyebut Soekarno mempunyai andil dalam rancangan Monas, mulai dari filosofi sampai inspirasi arsitektur yang ia pelajari dari negara lain.
Mengutip artikel Joe Cochrane di New York Times, Soekarno tertarik pada monumen dan bangunan bergaya Soviet.
Cochrane menyebut sebagian besar struktur monumen atau gedung di Jakarta yang dibangun saat pemerintahan Soekarno dari rentang waktu 1945 hingga 1967 tidak lepas dari gaya arsitektur Uni Soviet; besar, luas, megah.
Bahkan menurutnya Monas merupakan salah satu bangunan yang “paling Soviet di Asia Tenggara”.
Cochrane lanjut mengatakan, kawasan Medan Merdeka yang mengelilingi Monas modelnya mirip dengan Lapangan Merah di Moskow, Rusia.
Lalu di bagian utara Monas terdapat Istana Presiden. Berlanjut ke bagian timur, barat, selatan, ada gedung pemerintahan sampai barak militer.
Namun sebenarnya Soviet bukan satu-satunya inspirasi pembangunan monumen dan gedung di Indonesia, begitu yang dikatakan arsitek dan penulis Setiadi Sopandi.
Pria yang akrab disapa Cung itu menilai terjadi perkembangan gaya arsitektur sejak Monas selesai dibangun.
Cung menulis buku biografi Frederich Silaban, salah satu arsitek pemenang sayembara merancang Monas pada tahun 1955.
Dari gagasan-gagasan Silaban yang ia pelajari, Cung menyebut pada tahun itu Jakarta belum memiliki bangunan dengan identitas lokal, sehingga yang terjadi pada saat itu gaya arsitektur Indonesia mengadopsi gaya arsitektur negara-negara maju pada umumnya.
Baca juga: Anies dan Proyek Monas, Ditolak Untuk Disetujui?
Salah satunya gaya arsitektur ala Eropa, yang serba modern dan tinggi, yang diaplikasikan.
“Sebenarnya arsitektur tahun 1950 sampai 1970 susah dibilang gayanya, karena sejak tahun 1940 berkembang yang namanya arsitektur modern yang dijuluki international style, jadi tidak merujuk pada suatu negara tertentu,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/2/20).
Perihal rancangan tata ruang Monas yang disebut mirip Lapangan Merah bikin Soviet, Cung menjelaskan bahwa sebenarnya lazim jika suatu negara mengadopsi gaya civic center atau desain pusat kota untuk pusat pemerintahannya.
“Civic center selalu menjadi acuan pembangunan pusat pemerintahan,” kata Cung.
Cung mencontohkan rancangan civic center pada Colosseum di Roma yang di depannya terdapat tugu dan lapangan luas. Lalu Panthéon di Paris. Serta gedung parlemen di Washington, Amerika Serikat.
“Itu semuanya pusat-pusat pemerintahan yang diwujudkan dalam bentuk ruang terbuka besar di pusat kota yang simbolik,” pungkasnya.
Terlepas dari international style, Cung menyebut zaman itu Soekarno menginginkan Monas sebagai bangunan modern yang memiliki unsur kebudayaan Indonesia di dalamnya, sehingga disisipkanlah filosofi Lingga dan Yoni yang biasanya ada di Candi Hindu-Buddha.
Tugu menjulang tinggi merepresentasikan Lingga yang merupakan simbol kejantanan seorang pria (phallus), dan pelataran cawan gambaran dari Yoni sebagai simbol perempuan atau kesuburan.
“Monas gagasannya seakan dari lokal, sebenarnya tidak lokal banget karena dari mitologi Hindu asal India yang sudah lama merambah Jawa,” ujar Cung.
“Saya tidak tahu persis kenapa itu juga yang dipakai karena sebenarnya agak Jawa sentris,” lanjutnya.
Arsitek, akademisi, dan penulis buku ‘Bung Karno Sang Arsitek’, Yuke Ardhiati yang diwawancarai terpisah menyebutkan Soekarno mencetuskan ide Lingga Yoni untuk Monas setelah melihat artefak di Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah.
Setelah itu Soekarno menggelar sayembara rancangan tugu Monas pada tahun 1955.
Pada sayembara pertama ada 51 arsitek yang mengajukan rancangan. Hanya satu yang terpilih, yakni Frederich Silaban.
Namun Soekarno masih belum puas dengan rancangan Silaban, sehingga menggelar sayembara kedua pada tahun 1960.
Waktu itu pesertanya mencapai 222 arsitek. Sayang, tak ada satupun yang memenuhi keinginan Soekarno.
Akhirnya, desain Monas yang pernah diajukan Silaban diambilalih oleh Soekarno.
Ia lalu menugaskan arsitek bernama Raden Mas Soedarsono untuk melakukan modifikasi bersama dirinya.
Lalu proses pembangunan Monas dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah Soekarno.
Sejak dibuka umum pada tanggal 12 Juli 1975, hingga kini Monas masih menjulang dengan gagahnya dan setia menjadi saksi bisu perkembangan kota Jakarta beserta dinamika kehidupan warganya.