
TIKTAK.ID – Sejumlah orang meyakini terlalu banyak makan micin bisa membuat bodoh. Micin atau Monosodium Glutamat yang kemudian dikenal dengan nama MSG merupakan penambah rasa yang biasa ditambahkan ke berbagai makanan, sayuran kaleng, sup, sampai daging olahan.
Menurut Ahli Gizi Klinis di Rumah Sakit Melinda Bandung, Johanes Chandrawinata, MSG atau micin mengandung glutamat bebas sebanyak 74 persen, natrium 12 persen, dan sisanya mineral. Dia menyebut glutamat bebas yang tinggi itu yang menyebabkan micin terasa gurih, enak atau umami.
“Glutamat secara alamiah ada di mana-mana. Ada di tomat, hasil fermentasi seperti kecap, dan terasi,” ungkap Johanes, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Rabu (2/2/22).
Kemudian Johanes mengatakan antara micin buatan dengan micin alami tidak punya efek samping yang berbeda terhadap kesehatan. Dia menilai micin dan glutamat yang terkandung di dalamnya sama-sama berguna bagi metabolisme di usus.
“Glutamat digunakan sebagai sumber energi di usus, sehingga metabolisme lebih tinggi dan mudah,” terang Johanes.
Perlu diketahui, MSG diproduksi dengan memfermentasi pati, bit gula, tebu, atau molase. Fermentasi itu merupakan proses saat ragi atau bakteri mengubah karbohidrat menjadi alkohol. Proses tersebut pun sama seperti ketika membuat yogurt dan makanan fermentasi sehat lainnya.
Seorang ilmuwan Jepang pertama kali mengisolasi MSG dari sup rumput laut pada 1908 silam. Setelah itu dia mengajukan paten untuk memproduksi MSG yang mengarah pada produksi komersial penambah rasa.
Namun usai adanya produksi besar-besaran MSG, penambah rasa ini mulai mendapat reputasi buruk.
Mengutip Healthline, sekitar tahun 1960-an, dokter China-Amerika, Robert Ho Man Kwok menulis surat kepada New England Journal of Medicine.
Robert mengaku sakit setelah mengonsumsi makanan China, dan mengatakan gejalanya bisa diakibatkan oleh konsumsi alkohol, natrium, atau MSG. Surat tersebut mengarah pada penunjukan gejala Kwok sebagai “sindrom restoran China”, atau yang disebut “kompleks gejala MSG”. Lantas banyak penelitian mendukung reputasi buruk MSG, dan menudingnya sebagai makanan sangat beracun.
Akan tetapi, bukti saat ini mempertanyakan keakuratan penelitian sebelumnya lantaran beberapa alasan. Di antaranya kurangnya kelompok kontrol yang memadai, ukuran sampel kecil, kelemahan metodologi, kurangnya akurasi dosis, serta penggunaan dosis yang sangat tinggi dan jauh melebihi yang dikonsumsi dalam diet.