
TIKTAK.ID – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Choirul Anam menyatakan mendukung langkah Kepala Staf TNI AD (KSAD), Jenderal Andika Perkasa yang menghapus tes keperawanan dalam seleksi calon Korps Wanita TNI AD (Kowad). Anam mengatakan bahwa tes keperawanan bagi calon Kowad tidak relevan dengan kehidupan militer saat ini.
“Memang sejak beberapa tahun silam, isu ini sudah kita dorong untuk dihapuskan. Tidak hanya karena tidak relevan dengan kehidupan militer, tapi lebih jauh itu melukai nilai dasar kemanusiaan,” ujar Anam, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Kamis (12/8/21).
Senada dengan Anam, Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menyebut keputusan Andika menghapus tes keperawanan telah sejalan dengan standar dan norma HAM yang berlaku.
Baca juga : FPI Sebut Bagi-bagi Sembako Jokowi ‘Mengundang Murka Allah’, Apa Maksudnya?
“Norma hak asasi manusia yang menghormati martabat manusia, serta melindungi ruang privat,” terang Beka.
Untuk itu, Beka berharap praktik tes keperawanan yang dilakukan oleh lembaga negara lain juga dihapuskan. Ia pun mengimbau agar diganti tes lain yang lebih menghormati hak asasi dan nilai kemanusiaan.
“Terlebih penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia merupakan amanat konstitusi yang wajib dilaksanakan oleh institusi negara,” tutur Beka.
Sebelumnya, melalui pernyataan dalam sebuah video, Andika Perkasa menyampaikan bahwa pihaknya telah menghapus tes keperawanan bagi calon Kowad. Ia menegaskan, perubahan itu dilakukan untuk memperbaiki proses rekrutmen calon Kowad.
Baca juga : Sebut Anies Tak Konsisten Soal Reklamasi, PDIP: Ojo Esok Tempe Sore Dele!
Menurut Andika, menghilangkan tes keperawanan bisa menghindari penyakit menular berbahaya di antara calon prajurit wanita.
“Inspeksi vagina dan serviks (tes keperawanan), sekarang sudah tidak ada lagi,” ucap Andika lewat keterangan video, Rabu (10/8/21).
Andika menjelaskan, pemeriksaan kesehatan calon Kowad untuk menghindari insiden atau hal-hal yang membahayakan nyawa selama pendidikan. Oleh sebab itu, ia menganggap hal-hal yang tak berkaitan dengan tujuan tersebut tidak perlu dilakukan lagi.
“Hymen atau selaput dara tadinya merupakan satu penilaian (dalam seleksi siswa pendidikan pertama Kowad), apakah hymen utuh atau ruptur sebagian atau ruptur yang sampai habis. Tapi sekarang tidak ada lagi,” kata Andika, mengutip detik.com, Selasa (10/8/21).
Baca juga : Pengamat: Anies Butuh Cawapres dari Unsur Militer
“Sebab, tujuan penyempurnaan materi seleksi ini untuk kesehatan, menghindari satu insiden yang menghilangkan nyawa. Jadi yang tidak ada hubungannya dengan itu, maka tak perlu lagi,” imbuhnya.