
TIKTAK.ID – Kementerian Kesehatan Prancis meminta Badan Kesehatan Regional dan rumah sakit negara itu untuk menerapkan “organisasi krisis” mulai 18 Februari sebagai langkah untuk mempersiapkan kemungkinan lonjakan kasus virus Corona yang disebabkan varian baru yang sangat menular, tulis media lokal Le Journal Du Dimanche pada Minggu (14/2/21).
Langkah tersebut, yang akan mengulangi langkah-langkah yang diambil pada Maret dan November 2020 ketika Prancis melakukan lockdown nasional. Dengan peningkatan jumlah tempat tidur yang tersedia di rumah sakit, menunda pembedahan yang tidak mendesak dan mengerahkan semua sumber daya staf medis.
“Organisasi krisis ini harus dilaksanakan di setiap daerah, terlepas dari tingkat stres rumah sakit dan harus beroperasi mulai Kamis 18 Februari,” kata otoritas kesehatan DGS dalam memo yang dikutip oleh surat kabar tersebut, seperti yang dikutip dari Reuters.
Prancis telah melaporkan 21.231 kasus virus Corona baru yang dikonfirmasi pada Sabtu kemarin, sedikit naik dari 20.701 pada Jumat, menjadikan jumlah kumulatif total di Prancis menjadi 3.448.617 kasus. Jumlah itu tertinggi keenam di dunia.
Berbeda dengan beberapa negara tetangganya yang berjuang untuk mengendalikan varian yang lebih menular, Prancis telah menolak untuk melakukan penguncian baru, berharap aturan jam malam nasional yang diberlakukan sejak 15 Desember, yang pertama pembatasan diterapkan pada pukul 8 malam, kemudian berubah menjadi pukul 6 sore.
Namun, beberapa ilmuwan percaya bahwa Presiden Emmanuel Macron telah membuat taruhan besar dalam memutuskan untuk tidak melakukan penguncian baru, meskipun ada ancaman varian yang sangat menular.
Pada saat yang sama, Prancis tertinggal dalam melakukan vaksinasi dari beberapa negara Eropa lainnya, seperti Inggris.
Sementara itu Menteri Kesehatan Olivier Veran, yang mencatat bahwa varian yang pertama kali terdeteksi di Inggris menyumbang 25% dari infeksi baru yang dikonfirmasi di Prancis, mengatakan pada Kamis kemarin bahwa Pemerintah akan memutuskan dalam beberapa minggu ke depan apakah pembatasan yang lebih ketat diperlukan di tingkat nasional atau tidak.
Sedang anggota Dewan Ilmiah yang menasihati Pemerintah tentang kebijakan Covid-19, Arnaud Fontanet mengatakan kepada radio Europe 1 pada Sabtu kemarin bahwa dirinya khawatir varian yang pertama kali terdeteksi di Inggris dapat menjadi penyebab sebagian besar kasus pada Maret mendatang di Prancis.