
TIKTAK.ID – General Manager Arema FC, Ruddy Widodo menyatakan bahwa maraknya turnamen “antar kampung” (tarkam) ibarat buah simalakama bagi klub. Pasalnya, ia mengatakan Tim Singo Edan tidak bisa melarang pemain, namun juga tidak memberikan izin pemain ikut tarkam.
Ruddy pun menjelaskan, pihaknya hanya meminta para pemain bisa menjaga diri agar tidak cedera. Ia menyatakan pihak klub hanya bisa memberikan imbauan karena menyadari situasi yang terjadi saat ini.
Perlu diketahui, selama liga tidak berjalan sejak Maret lalu, pemain Liga 1 hanya mendapatkan 25 persen gaji mereka dari klub. Oleh sebab itu, tak heran jika beberapa pemain memilih tarkam demi mendapatkan uang tambahan. Selain itu, ada pula yang beralih profesi sementara dari menjual beras sampai menjadi satpam.
“Gaji hanya 25 persen sebenarnya cukup tidak cukup buat pemain. Tapi bagi Arema sendiri, yang penting mereka bertanggung jawab sama diri sendiri. Saat tarkam mereka bisa jaga diri, dan kalau ada apa-apa ya tanggung jawab sendiri. Kalau kami melarang pun tidak bisa, susah,” ujar Ruddy, seperti dilansir CNNIndonesia.com, Kamis (12/11/20).
Ruddy mengaku heran dengan maraknya turnamen tarkam. Ia menilai pertandingan tarkam justru menjamur hampir di seluruh pelosok, sementara kompetisi resmi di Tanah Air kembali ditunda karena tidak kunjung mendapatkan izin dari pihak kepolisian.
“Ironisnya, tarkam ini banyak yang boleh memakai penonton. Sepak bola ini tidak bisa disetop, karena sepak bola adalah olahraga merakyat yang bisa mempersatukan orang. Bahkan di Malang sini, ada tarkam antarinstansi. Ini kan lucu. Tolong dilihat, wahai Bapak-bapak yang melarang [Liga 1 bergulir],” tutur Ruddy.
Sementara itu, Direktur Madura United, Haruna Soemitro menyebut gatal melihat fenomena pertandingan yang marak digelar belakangan. Bahkan, kata Haruna, nama-nama pesepakbola profesional yang sudah biasa mewarnai kompetisi Liga 1 juga ikut tampil di tarkam. Termasuk di dalamnya pemain yang pernah mengisi line up Timnas Indonesia.
Kemudian terkait pemain yang terjun ke tarkam, Haruna mengungkapkan pemain seharusnya bisa membedakan ajang apa saja yang bisa diikuti selama kompetisi vakum di tengah pandemi virus Corona (Covid-19).
“Kalau yang terikat kontrak dengan Madura United semua status pemain profesional. Jadi harusnya mereka bisa membedakan kegiatan-kegiatan yang profesional,” tegas Haruna.
“Sebagai pribadi yang punya passion pada bola, pastinya gatal melihat fenomena liga dilarang, tapi tarkam yang jauh dari standar liga profesional malah bisa jalan terus,” imbuhnya.