
TIKTAK.ID – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (1/6/21) memvalidasi vaksin CoronaVac China untuk penggunaan darurat. CoronaVac merupakan vaksin China kedua yang disetujui oleh WHO.
Validasi WHO artinya vaksin China akan memainkan peran yang lebih besar dalam membantu dunia menghilangkan kesenjangan vaksin yang menghambat upaya global untuk memerangi pandemi Covid-19.
Tidak seperti beberapa negara maju yang menimbun vaksin, China telah mengambil langkah nyata untuk memenuhi janjinya menjadikan vaksin China sebagai barang publik global, dan menerapkan tindakan praktis konsep kesehatan global untuk semua.
Sejauh ini, China telah memberikan bantuan vaksin ke lebih dari 80 negara berkembang dan mengekspor vaksin ke lebih dari 50 negara, sebuah upaya tak henti-hentinya untuk membantu masyarakat internasional menjembatani “kesenjangan imunisasi” yang ditimbulkan oleh ketidakadilan dalam distribusi vaksin.
China, sebagai pemain global, telah mempromosikan kampanye vaksinasi global yang lebih adil, karena vaksin yang ditawarkan China kepada dunia telah terbukti dapat diakses, efektif, dan aman.
Aksesibilitas tinggi adalah ciri khas dari dua vaksin China yang divalidasi WHO, vaksin Sinopharm dan vaksin CoronaVac.
Menurut perusahaan farmasi China Sinovac, produsen vaksin CoronaVac sejak Agustus 2020, lini produksi perusahaan telah berjalan untuk memenuhi permintaan domestik maupun global.
Saat ini, kapasitas produksi vaksin Covid-19 Sinovac melebihi 2 miliar dosis per tahun, memasok hampir 40 negara dan wilayah secara global.
Sementara itu, hasil kajian ilmiah oleh Strategic Advisory Group of Experts on Immunization WHO menunjukkan efikasi vaksin Sinopharm untuk penyakit simtomatik dan rawat inap diperkirakan 79 persen, sedangkan vaksin Sinovac mencegah penyakit simtomatik pada 51 persen dari mereka yang divaksinasi dan mencegah Covid-19 tingkat berat dan rawat inap di 100 persen dari populasi yang diteliti.
Dalam hal keamanan, saat ini tidak ada bukti jelas yang menunjukkan adanya masalah keamanan dari kedua vaksin tersebut. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Selasa bahwa vaksin CoronaVac telah diberikan Daftar Penggunaan Darurat WHO setelah ditemukan “aman, efektif dan terjamin kualitasnya setelah dua dosis vaksin yang tidak aktif”.
Selain itu, penyimpanan dan pengangkutan yang mudah merupakan keuntungan utama tambahan dari kedua vaksin China.
Secara teoritis, vaksin Sinopharm dan Sinovac dapat disimpan pada suhu lemari es konvensional, artinya sistem rantai dingin vaksin yang ada dan bahkan lemari es rumah tangga dapat memenuhi persyaratan penyimpanan.
Sinovac mengatakan hasil percobaan menunjukkan bahwa vaksinnya dapat disimpan pada suhu 25 derajat Celcius selama 42 hari, pada suhu 37 derajat Celcius selama 21 hari, dan antara perkiraan 2 hingga 8 derajat Celcius untuk “waktu yang sangat lama”, memberikan kondisi yang menguntungkan bagi vaksin dalam hal penyimpanan dan transportasinya.
Keuntungan tersebut sangat bisa memperbesar skala vaksinasi di negara berkembang di mana kondisi suhu sangat rendah sulit untuk dipenuhi.
Profesor di Institut Virologi Rumah Sakit Universitas Essen di Jerman, Lu Mengji mencatat, “untuk negara-negara dengan sumber daya teknologi medis yang terbatas, vaksin yang tidak aktif memiliki keuntungan besar dalam hal penggunaan. Ini akan memainkan peran penting dalam perjuangan global melawan pandemi”.