
TIKTAK.ID – Caitlin North Lewis tampak kembali unjuk pesona dan kemampuannya berakting. Kali ini Caitlin membintangi film pabrikan Netflix berjudul “Dear David”. Film ini pun menjadi ruang bagi Caitlin untuk mengeksplorasi lebih jauh kemampuannya dalam berakting.
“Film Dear David telah menjadi ruang eksplorasi kemampuan aktingku,” ungkap Caitlin di Jakarta, belum lama ini, seperti dilansir Kapanlagi.com.
Caitlin mengatakan bahwa di film “Dear David”, dirinya berperan sebagai karakter Dilla. Caitlin sendiri mengaku tertarik dan merasa tertantang ketika memperoleh naskah cerita film tersebut.
“Karakter Dilla itu kuat. Aku suka Dilla yang bisa hidup dalam beberapa kondisi, dan tantangannya itu lho. Untuk bisa mendalami sungguh-sungguh karakter ini, aku harus latihan Muay Thai selama dua bulan,” terang Caitlin.
“Karakter Dilla merupakan sebuah totalitasku dalam berkarya, walaupun kepuasanku tidak berhenti sampai di sini,” imbuh Caitlin.
Lebih lanjut, Caitlin yang sebelumnya ikut bermain dalam film “Hit & Run” itu menyatakan ketagihan bermain film laga. Ia pun berharap dapat kembali mendapat tawaran dalam film-film yang menyajikan pertarungan.
“Aku ingin sekali mendapatkan peran cewek jagoan yang tegas, kuat, galak, dan jago bela diri. Apalagi kalau plot ceritanya sangat bagus,” ucap Caitlin.
Perlu diketahui, “Dear David” adalah film Netflix Original Indonesia terbaru yang sudah tayang sejak Kamis (9/2/23). Selain Caitlin, film karya sutradara Lucky Kuswandi ini dibintangi oleh Shenina Cinnamon dan Emir Mahira.
“Dear David” bercerita mengenai Laras (Shenina Cinnamon), seorang murid cemerlang pemegang beasiswa yang punya blog rahasia berisi berbagai fantasinya tentang David (Emir Mahira), bintang sepak bola sekolah yang ia sukai. Reputasi dan masa depan Laras pun menjadi pertaruhan ketika blog itu terbongkar dan kisah-kisahnya dibaca oleh seluruh murid sekolah.
“Dear David” menggambarkan berbagai persoalan khususnya di kalangan remaja. Mulai dari persahabatan, percintaan, hubungan orang tua dengan anak, institusi sekolah, kehidupan bermedia sosial, sampai mencintai diri sendiri atau self-love.
“Film ini membicarakan hal yang sangat universal, tak hanya untuk remaja. Film ini mengenai self-love dan self-compassion. Kini kita hidup di zaman di mana kita sering banget dituntut untuk menjadi lebih, dalam segala hal. Khususnya remaja dengan media sosial mereka, selalu mengomparasi diri mereka dengan orang lain,” jelas Lucky Kuswandi dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (8/2/23), mengutip Tempo.co.