
TIKTAK.ID – Penasihat Kantor Staf Presiden (KSP), Andi Widjayanto menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru memberikan arahan terkait pemilihan Panglima TNI yang baru. Andi menyebut Jokowi memaparkan empat poin pertimbangan dalam memilih Panglima TNI pengganti Marsekal Hadi Tjahjanto, di antara Jenderal Andika Perkasa, Laksamana Yudo Margono dan Marsekal Fadjar Prasetyo.
“Presiden Jokowi tadi pagi sudah menyampaikan, pertama siapkan diri untuk mengatasi ancaman yang kompleks, termasuk pandemi Covid-19,” ujar Andi, seperti dilansir Kompas TV, Selasa (5/10/21).
Kemudian Andi mengatakan Jokowi juga akan memilih Panglima TNI baru yang bisa melakukan transformasi pertahanan.
Baca juga : Berikut Perbedaan Partai Buruh yang Lama dan Baru
“Transformasi pertahanan itu bisa 25 hingga 30 tahun ke depan. Jadi, kerangka strategi konseptual jangka panjang yang perlu disiapkan bersama Presiden, Menteri Pertahanan, serta Panglima TNI yang baru,” imbuhnya.
Poin yang ketiga adalah Jokowi berencana berinvestasi dalam membangun pertahanan bersama sosok Panglima TNI yang baru.
“Dalam melakukan transformasi pertahanan, maka belanja pertahanan merupakan investasi. Terakhir yang ditugaskan Presiden tentang menjaga pilar-pilar strategi pertahanan Indonesia, seperti pertahanan berlapis dan pertahanan dalam perang,” ungkap Andi.
Baca juga : Respons Gus Miftah Soal Sumbangan Mumtaz Rais: Ora Aji Ora Didol!
Andi menyimpulkan, Jokowi tengah mencari Panglima TNI baru yang cakap dalam memimpin operasi militer dan memiliki pandangan jauh ke depan.
“Yang diperlukan presiden yakni perpaduan sosok panglima yang mampu menjalankan operasi militer sekaligus memiliki visi bersama Presiden dan Menhan membangun kekuatan pertahanan jauh ke depan,” tutur Andi.
Di sisi lain, pengamat militer dari ISSES Khairul Fahmi mengklaim bahwa Jokowi akan memilih Panglima TNI baru yang bisa membantunya meraih agenda politik.
Baca juga : Buka Opsi Maju Pilpres Lewat PAN, Ridwan Kamil: Bismillah
“Saya kira pertahanan laut ini menjadi perhatian presiden dari awal, bahkan sejak periode pertama. Mengenai poros maritim dan Laut China Selatan, itu yang menjadi bagian dari visi misi presiden dan hingga kini kita masih belum melihat perkembangan yang signifikan,” terang Fahmi.
Lebih lanjut, Fahmi menilai Indonesia juga membutuhkan Panglima TNI yang dapat membantu menghadapi banyak tantangan di masa depan.
“Kecakapan dasar, dan kapasitas kemungkinan kurang lebih setara. Masalahnya apa sih yang akan dihadapi ke depan? Kita sedang dihadapkan dengan sejumlah tantangan besar,” sambungnya.
Baca juga : Pengurus Partai Ummat Mundur Bergiliran, Amien Rais Makin Kesepian
Fahmi menjelaskan, terdapat isu modernisasi alutsista, kesejahteraan prajurit, dan harapan masyarakat supaya tidak terjadi peran serta berlebihan dari TNI di luar tugas pokoknya di ranah sipil.